Sales & Marketing Menjalankan IT

Dapatkah Divisi Sales and Marketing menjalankan Divisi IT? Artinya orang dari divisi IT harus melapor kepada orang-orang di divisi Sales and Marketing. Ketika anda sebagai orang yang bekerja di Divisi IT ditanya seperti demikian, apa sikap anda? Kebanyakan akan menjawab “Tidak”, daripada harus berada di bawah kendali orang-orang Sales and Marketing.

Umumnya anda melaporkan segala tugas-tugas anda kepada atasan anda. Ketika anda diminta untuk selalu melaporkan kepada rekan kerja anda di Divisi lain yang selevel dengan anda, anda biasanya akan menolak.

Namun fenomena ini sebentar lagi akan terjadi di lingkungan perusahaan korporasi yang telah memiliki Divisi IT sendiri dengan tugas-tugas yang sudah lebih ke arah strategis.

Di Amerika, beberapa perusahaan seperti JetBlue, DuPont, Mindbridge dan Vertical Software Group telah menjalankan strategi seperti ini. Di perusahaan tersebut, orang-orang Divisi IT harus melapor kepada Divisi lain yang selevel, yaitu Operations and Services Division atau kepada Sales and Business Development Division.

Jangka Panjang

Pertanyaannya, apakah Sales and Marketing akan sukses melalui IT dalam jangka panjang? Tujuan utama perusahaan menempatkan seorang Chief Information Officer (CIO) dibawah Divisi Sales and Marketing, karena ingin mendapatkan beberapa benefit.

Keputusan yang bagus jika orang IT memberikan laporannya kepada divisi yang lebih berperan dalam peningkatan penjualan. Dan keputusan-keputusan yang diambil berkaitan dengan strategi penjualan, dikuantifikasi oleh sistem informasi. Dengan kata lain, orang-orang Sales and Marketing sering lebih berhasil dalam menjalankan proyek-proyek IT daripada orang IT sendiri.

Misalnya, Mindbridge proyek IT dikerjakan orang-orang Sales and Marketing sejak tahun 1997. Mereka berasumsi, “We view ourselves as a sales-and-marketing company first and a technology company second“.

Di Indonesia

Di Indonesia sebetulnya juga sudah banyak perusahaan yang menerapkan strategi seperti ini. Namun, dalam bentuk yang sedikit berbeda, tidak terlalu kentara seperti di perusahaan Amerika.

Sebagai contoh, sebuah majalah game akan lebih berhasil jika dikerjakan oleh orang-orang yang bukan seorang gamer, karena ketertarikan gamer akan lebih banyak justru bukan pada pengerjaan editorial melainkan lebih banyak main game. Disadari atau tidak, diakui atau tidak, hal itu akan terjadi secara perlahan. Jadi semua tugas-tugas yang bersifat strategis bisnis seperti tugas redaksional akan lebih berhasil jika dilakukan oleh orang-orang non-gamer.

Ini hanya contoh, bukan berarti gamer tidak dibutuhkan dalam pengerjaan tugas-tugas editorial, tapi tugas-tugas tersebut sebaiknya bukan dikerjakan oleh gamer. Gamer hanya membantu editor dalam penyusunan naskah saja.

Pro kontranya juga pasti ada, dalam kasus majalah game tersebut, pasti ada yang tidak sependapat. Mereka berasumsi bahwa gamerlah yang paling banyak tahu soal game. Jadi biarlah gamer yang mengerjakan editorialnya. Pendapat ini memang tidak salah, karena dalam bermain game merekalah yang paling jago, tapi bukan dalam membisniskan game berupa sebuah majalah game. Orang-orang bisnis yang mengerti gamelah yang akan lebih berhasil menjalankan bisnis majalah game tersebut. Ini keputusan manajemen strategis, bukan keputusan editorial semata. Jadi pimpinan juga harus tanggap akan hal ini.

Contoh lain, tabloid rumah. Apakah anda akan menyerahkan pengerjaan editorial kepada seorang “kuli”? Karena kuli lebih banyak tahu soal rumah? Namun kuli tidak mengerti bisnis rumah, apalagi bisnis penerbitan.

Masih banyak kasus-kasus lain yang bisa kita bedah dengan pola pikir seorang pebisnis. Itulah sebabnya banyak sekolah yang menawarkan pendekatan manajemen dan bisnis. Sekolah komputer tidak lagi meluluskan sarjana-sarjana selevel programmer saja, tapi juga programmer yang mengerti manajemen dan bisnis yang bisa diaplikasikan sesuai dengan disiplin ilmunya. Jadi ketika mereka memasuki dunia kerja (yang notabene dunia bisnis) mereka langsung mampu menduduki jabatan-jabatan strategis dan mampu memenangkan persaingan.

Ditulis oleh : Eko Sulistiono, redaksi Computer Easy.


  1. 1 Note!: Artikel PMB 7

    […] perusahaan mencapai sasarannya. Contoh manajemen yang strategis dapat kita lihat pada artikel di https://technocell.wordpress.com/2007/11/11/sales-marketing-menjalankan-it/. Pada artikel tersebut membahas penempatan karyawan dalam sebuah divisi di sebuah perusahaan. Di […]




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: